Tentang Simonik
Simonik adalah singkatan dari Sistem Monitoring Hidroponik, yang mana simonik ini merupakan suatu sistem pengamatan jarak jauh untuk melihat keadaan tanaman hidroponik yang berada di greenhouse .
Simonik ini adalah project untuk menyelesaikan Laporan Akhir D3 Teknik Telekomunikasi di Politeknik Negeri Malang. Latar belakang dibuatnya project ini adalah Indonesia selain disebut negara mari Project ini dapat melakukan monitoring dan controlling pada tanaman hidroponik yang terdapat pada greenhouse, selain itu dari project ini diharapkan petani dapat mengetahui perbedaan tumbuh tanaman hdiroponik yang menggunakan pencahayaan LED Grow Light, Lampu Neon, atau yang hanya menggunakan pencahayaan alami, yaitu cahaya matahari. Tanaman Hidroponik adalah budidaya tanaman yang memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah sebagi media tanam atau soilless. Monitoring disini adalah monitoring suhu dan kelembaban yang terdapat pada greenhouse. Suhu dan kelembaban ini tentunya akan berpengaruh pada lampu. Suhu dan kelembaban ini dapat dilihat kapanpun oleh admin. Sedangkan untuk controllingnya adalah controlling lampu.
Latar Belakang
Indonesia dahulu dikenal sebagai negara agraris atau sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Banyaknya lahan pertanian, berpotensi untuk dijadikan lahan mata pencaharian oleh masyarakat Indonesia.
Namun, berdasar data dari Hasil Sensus Pertanian 2013 (ST2013), bahwa jumlah rumah tangga pengguna lahan di Indonesia telah terjadi penurunan sebesar 15,35%. Banyak faktor yang memicu masyarakat yang berprofesi sebagai petani beralih ke profesi yang lain. Salah satu faktornya yakni konversi lahan. Menurut Kompas.com, sebanyak 72% dari hutan asli Indonesia telah musnah. Banyak yang dikelola menjadi gedung dan pabrik. Petani meninggalkan lahannya bukan berarti terhimpit ekonomi, namun dipaksa karena kepentingan pembangunan atau kebijakan tata ruang. Semakin sempitnya lahan pertanian, membuat petani berinovasi di bidang pertanian salah satunya cara bertani tanpa media tanah.
Pada tahun 2012, hidroponik tengah menjadi tren di Indonesia. Hidroponik adalah teknik bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah. Hidroponik sendiri ditemukan pada tahun 1600-an, dan masuk ke Indonesia pada tahun 1700-an. Hidroponik menjadi tren, karena tekniknya tanpa menggunakan tanah sehingga dapat diletakkan di dalam rumah sekalipun. Namun, bagaimanapun juga tanaman hidroponik memerlukan cahaya matahari untuk tumbuh dan berfotosintesis. Pada tahun 1995, Robert C. Morrow telah menyusun jurnal yang berjudul LED Lighting in Horticulture atau Pencahayaan menggunakan LED pada Pertanian. Dari hasil percobaan Robert, disimpulkan bahwa spektrum cahaya yang dibutuhkan oleh tanaman adalah spektrum cahaya warna merah dan biru. Dua warna tersebut memiliki spektrum yang sama terhadap cahaya matahari. Maka dari itu, LED berwarna merah dan biru sering dipakai untuk pencahayaan hidroponik untuk membantu proses tumbuh dan fotosintesis tanaman. Untuk hidroponik yang berada di luar ruangan, idealnya diberi sinar matahari pada pagi sampai sore saat matahari terbenam, dan diberi cahaya LED pada sore sampai pagi saat matahari terbit (maksimal 12 jam penyinaran LED).
Penyinaran LED yang membutuhkan waktu-waktu tertentu, dapat membuat petani hidroponik kerepotan untuk menghidupkan dan mematikan saklar LED. Petani hidroponik juga butuh mengecek suhu dan kelembaban tanaman, untuk mengatur penyinaran agar tanaman tetap dapat tumbuh dengan baik. Namun, penyinaran LED yang membutuhkan waktu-waktu tertentu, dapat membuat petani hdiroponik kerepotan untuk menghidupkan dan mematikan saklar LED. Petani hidroponik juga butuh mengecek suhu dan kelembaban tanaman, untuk mengatur penyinaran agar tanaman tetap dapat tumbuh dengan baik. Hal ini dirasa kurang efektif, karena petani diharuskan untuk selalu mengecek tanaman ke dalam greenhouse. Padahal perkembangan teknologi saat ini sudah mumpuni untuk membuat suatu sistem, dimana sistem ini dapat membantu petani untuk melakukan apapun, termasuk pengecekan dan pengontrolan tanaman hidroponik kapanpun secara berkala.
Untuk membuat sistem ini tentunya dibutuhkan suatu perangkat yang dapat digunakan untuk jarak jauh. Salah satu pernagkat yang dapat digunakan untuk jarak jauh adalah WiFi. Perangkat WiFi dapat memancarkan sinyal internet dan dapat dugunakan walaupun jarak tidak terlalu dekat. Tidak dipungkiri juga, internet kini semakin menjamur dan hampir semua bidang telah didukung oleh didukung oleh layanan internet. Bukan tidak mungkin jika internet dapat membantu dalam proses pertumbuhan tanaman hidroponik. Pengecekan suhu dan kelembaban, serta menghidupkan saklar lampu pada greenhouse dari jarak jauh, dapat dilakukan kapanpun dan darimana saja. Dengan tampilan website yang user friendly, semua kalangan dapat menggunakannya. Dari sistem ini petani tidak perlu mengecek lagi kondisi tanaman ke dalam greenhouse. Maka dari itu, Laporan Akhir ini berjudul “Sistem Monitoring Suhu dan Kelembaban Tanaman Selada Hidroponik berbasis Mikrokontroler melalui Web”.








